maafkan aku,
kenangan itu terlalu dalam tertanam,
hingga menghadirkan bermacam gejolak perubahan,
aku bahkan tak pernah mengundangnya,
benakku pun tak pernah membayangkannya,
tapi perubahan itu tetap saja datang,
maafkan aku,
karena tak kuasa mengusirnya,
untuk menjamunya pun aku tak sanggup,
tapi aku tak ingin dia pergi,
entah kenapa,
lalu kubiarkan saja,
maafkan aku,
karena lancang membiarkannya masuk ke dalam,
tidak mengusirnya,
tidak juga menjamunya,
hanya kubiarkan saja,
maafkan aku,
karena tak mampu menyimpannya
di brankas tersembunyi untukku sendiri,
karena aku hanya ingin kau tau,
aku kangen kamu,
itu saja
Dibajak dari violet_vagina.blogspot.com tanpa perubahan
Senin, 23 Juni 2008
Sabtu, 19 April 2008
lamunan
kadang kuberharap
ketidakhadiranku diwaktu-waktumu
tlah membuatmu termenung
melamunkan buih-buih yang sempat menyentuh kaki-kakimu
dan kau pun teteskan airmata
seringkali kukhayalkan
bahwa kau tangisi ketiadaanku di sisimu
lalu kau inginkan gunung pasir di hadapanmu memelukmu
buat hangatkan relung hatimu yang telah kosong
dan kaupun mimpikan angin selimuti jiwamu
seperti dulu kala rasaku temani sepimu
seperti saat ini ku berharap
kau ceritakan tentang ruang rindumu
yang tlah lama kau pendam
buat hilangkan sesak yang merajam
meski dalam sepi
lalu kau kisahkan
pada langit atas tentang gemuruh ombak rasamu
yang tak mampu kau terjang lagi
hingga biru lautmu tak mampu tampung air matamu
tapi bila waktu-waktumu
tak pernah ceritakan kerinduanmu tentangku
biarlah ku hanya pernah berharap
kau masih sisakan keping hatimu
dan kau tak sanggup menguburnya
ketidakhadiranku diwaktu-waktumu
tlah membuatmu termenung
melamunkan buih-buih yang sempat menyentuh kaki-kakimu
dan kau pun teteskan airmata
seringkali kukhayalkan
bahwa kau tangisi ketiadaanku di sisimu
lalu kau inginkan gunung pasir di hadapanmu memelukmu
buat hangatkan relung hatimu yang telah kosong
dan kaupun mimpikan angin selimuti jiwamu
seperti dulu kala rasaku temani sepimu
seperti saat ini ku berharap
kau ceritakan tentang ruang rindumu
yang tlah lama kau pendam
buat hilangkan sesak yang merajam
meski dalam sepi
lalu kau kisahkan
pada langit atas tentang gemuruh ombak rasamu
yang tak mampu kau terjang lagi
hingga biru lautmu tak mampu tampung air matamu
tapi bila waktu-waktumu
tak pernah ceritakan kerinduanmu tentangku
biarlah ku hanya pernah berharap
kau masih sisakan keping hatimu
dan kau tak sanggup menguburnya
Minggu, 13 April 2008
menanti kabar
kau yang berlayar menuju ufuk citamu
tlah titipkan pesan lewat ombak pada celah-celah karang
namun pasirku tak mampu terjemahkan buih pesanmu
hanya putih bercampur udara ditelan tumpukan kerang
memang aku tak pernah bayangkan kau kembali
bersama layarmu yang terkembang
bawa muatan; mutiara dan batu-batu putih
dan kubayangkan semua untukku
masih saja kau biarkan tubuhku dibelai angin
hingga di setiap desirnya
selalu kutanya tentangmu
tentang gelombang yang hanyutkanmu
tentang biru yang pernah kaujelajahi
tentang kayu yang pernah kausinggahi
tapi hanya lirihan sepi yang kudengar
dan gelisah ombak pada deburnya
dan kesedihan matahari di teriknya
dan keteguhan karang pada kikisannya
kau yang tlah berlayar mengejar ufuk asamu
tlah sematkan salam pada gelombang
yang tak pernah mampu kubaca biru gemuruhnya
biarlah pasir sendiri menepi menanti kabar pasti
tlah titipkan pesan lewat ombak pada celah-celah karang
namun pasirku tak mampu terjemahkan buih pesanmu
hanya putih bercampur udara ditelan tumpukan kerang
memang aku tak pernah bayangkan kau kembali
bersama layarmu yang terkembang
bawa muatan; mutiara dan batu-batu putih
dan kubayangkan semua untukku
masih saja kau biarkan tubuhku dibelai angin
hingga di setiap desirnya
selalu kutanya tentangmu
tentang gelombang yang hanyutkanmu
tentang biru yang pernah kaujelajahi
tentang kayu yang pernah kausinggahi
tapi hanya lirihan sepi yang kudengar
dan gelisah ombak pada deburnya
dan kesedihan matahari di teriknya
dan keteguhan karang pada kikisannya
kau yang tlah berlayar mengejar ufuk asamu
tlah sematkan salam pada gelombang
yang tak pernah mampu kubaca biru gemuruhnya
biarlah pasir sendiri menepi menanti kabar pasti
Selasa, 08 April 2008
hang & blank
bila kau tak mampu menangkap rimis
yang aku tebarkan lewat awan silam
biarkan sajalah ia mengalir
semoga kau masih mampu menangkap embun
bukan kabutku yang memaksamu
hingga kau diselimuti biruku
namun tlah kaubiarkan anginmu menerpaku
seperti dulu kala gunung tersipu malu
menanti dewi, menunggu api, tinggalkan mimpi
yang tlah kau tinggalkan di jalan setapak
terpahat di pucuk-pucuk cemara
hingga burung-burung merindukan rumput hijau
dan itulah yang slalu terbaca di mataku
hingga airmata berarak menuju puncak
bila ku tak mampu membakar matarimu
hingga kemarau terpa hutanku
biarkan sajalah ia membeku
semoga kau masih mampu malamkan bulan
temani dingin, temani gelap
pada sunyi-sunyi yang tak bermimpi
tetap saja bintangmu tak mampu kuraih
hingga kubiarkan saja merah menyambut pagi
yang aku tebarkan lewat awan silam
biarkan sajalah ia mengalir
semoga kau masih mampu menangkap embun
bukan kabutku yang memaksamu
hingga kau diselimuti biruku
namun tlah kaubiarkan anginmu menerpaku
seperti dulu kala gunung tersipu malu
menanti dewi, menunggu api, tinggalkan mimpi
yang tlah kau tinggalkan di jalan setapak
terpahat di pucuk-pucuk cemara
hingga burung-burung merindukan rumput hijau
dan itulah yang slalu terbaca di mataku
hingga airmata berarak menuju puncak
bila ku tak mampu membakar matarimu
hingga kemarau terpa hutanku
biarkan sajalah ia membeku
semoga kau masih mampu malamkan bulan
temani dingin, temani gelap
pada sunyi-sunyi yang tak bermimpi
tetap saja bintangmu tak mampu kuraih
hingga kubiarkan saja merah menyambut pagi
Selasa, 01 April 2008
used to be
semestinya tak kuucap lagi namamu di sini
tapi bibir ini selalu bicara tentang hati
yang tak berhenti berlari
seharusnya tak kuketik lagi namamu di papan
namun jari ini tak mampu memendam
meski dendan tlah terpejam
kau yang pernah terbuang oleh rasa,
atau kau yang membuang rasa
dan menyimpannnya dalam-dalam
di bawah lipatan
hingga tak mampu kau ungkapkan
dan mau menanggung beban abad silam
maafkan sajalah semua rasamu itu
bukan salahku atau salahmu
bila ia mengintai dalam gelapmu
menanti hingga kau lengah
dan menerkammu
tanpa balas
seperti ia tlah menerkamku
merobek sisa ombakmu
mengoyak sadarku akan pantaimu
yang dulu pernah kau tanam
lalu kupendam dalam-dalam
seharusnya tak kubakar kertas-kertas rapuh ini
dan kubiarkan saja hujan melarutkannya
hingga terhanyut menuju lautmu
tapi bibir ini selalu bicara tentang hati
yang tak berhenti berlari
seharusnya tak kuketik lagi namamu di papan
namun jari ini tak mampu memendam
meski dendan tlah terpejam
kau yang pernah terbuang oleh rasa,
atau kau yang membuang rasa
dan menyimpannnya dalam-dalam
di bawah lipatan
hingga tak mampu kau ungkapkan
dan mau menanggung beban abad silam
maafkan sajalah semua rasamu itu
bukan salahku atau salahmu
bila ia mengintai dalam gelapmu
menanti hingga kau lengah
dan menerkammu
tanpa balas
seperti ia tlah menerkamku
merobek sisa ombakmu
mengoyak sadarku akan pantaimu
yang dulu pernah kau tanam
lalu kupendam dalam-dalam
seharusnya tak kubakar kertas-kertas rapuh ini
dan kubiarkan saja hujan melarutkannya
hingga terhanyut menuju lautmu
Sabtu, 29 Maret 2008
halusinasi
ah seandainya
tak kutemukan lagi gambarmu di ruang bacaku
tentunya
ingatan tentangmu tlah menguap bersama embun pagi
atau seandainya
tak pernah kau simpan bayangmu di waktu hilangku
meski tak sengaja
sudah pasti
engkau hanya sisa-sisa cakrawala yang rapuh bagiku
namun seandainya
kau pernah mengingatku kala di rumah suci itu
tuluskah
saat kau panjatkan doa-doa angin sunyimu untukkku
dan seandainya
masih ada setitik ingatmu tentangku
tetap saja
musim berganti tak mampu pertemukan hati-hati yang tlah kaku
tapi seandainya
kau tak lagi peduli tentang apa-apa dalam pengembaraanku
dan akan selalu saja
terucap maafkan bila masih tersisa hitammu di dasarku
tak kutemukan lagi gambarmu di ruang bacaku
tentunya
ingatan tentangmu tlah menguap bersama embun pagi
atau seandainya
tak pernah kau simpan bayangmu di waktu hilangku
meski tak sengaja
sudah pasti
engkau hanya sisa-sisa cakrawala yang rapuh bagiku
namun seandainya
kau pernah mengingatku kala di rumah suci itu
tuluskah
saat kau panjatkan doa-doa angin sunyimu untukkku
dan seandainya
masih ada setitik ingatmu tentangku
tetap saja
musim berganti tak mampu pertemukan hati-hati yang tlah kaku
tapi seandainya
kau tak lagi peduli tentang apa-apa dalam pengembaraanku
dan akan selalu saja
terucap maafkan bila masih tersisa hitammu di dasarku
Minggu, 17 Februari 2008
ah senja kapan kau kembali
hangat sinarmu baru saja kurasakan
warnamu yang kuning pucat
ceritakan harapan-harapanmu di masa nanti
lalu kita bercengkerama
dan bicarakan tentang mimpi-mimpi yang terbuang
semburatmu peluk aku di kedalamannya
hangatnya sentuh aku dengan lembutnya
seakan tak mau kau lepaskan
namun
perlahan kau pun tenggelam dengan pasti
pergi buat sesaat tinggalkan yang termangu
dengan lambat kau lambaikan sisa jinggamu
hingga merasuk lembut ke dada
dan dengan pasti tlah menyusup sepi
tak dinyana tinggal gelap yang kau sisakan
ah senja kapan kau kembali
langit masih lukiskan lembayung
sisa jejak yang kau tinggalkan
betapa menusuk rasa rindu ini
tak sedetikpun kau tolehkan tanganmu
senyummu yang pahit tlah tinggalkan aku
di kegamangan pasir dan hitam karang
kau pun lalu pergi ke batas langit
ah senja kapan kau kembali
kini
tak mampu lagi kugapai baramu
tak sanggup lagi kukejar hangatmu
kau sisakan kenangan yang membiru
dan kau tinggalkan sepi yang sempurna untukku
ah senja kapan kau kembali
warnamu yang kuning pucat
ceritakan harapan-harapanmu di masa nanti
lalu kita bercengkerama
dan bicarakan tentang mimpi-mimpi yang terbuang
semburatmu peluk aku di kedalamannya
hangatnya sentuh aku dengan lembutnya
seakan tak mau kau lepaskan
namun
perlahan kau pun tenggelam dengan pasti
pergi buat sesaat tinggalkan yang termangu
dengan lambat kau lambaikan sisa jinggamu
hingga merasuk lembut ke dada
dan dengan pasti tlah menyusup sepi
tak dinyana tinggal gelap yang kau sisakan
ah senja kapan kau kembali
langit masih lukiskan lembayung
sisa jejak yang kau tinggalkan
betapa menusuk rasa rindu ini
tak sedetikpun kau tolehkan tanganmu
senyummu yang pahit tlah tinggalkan aku
di kegamangan pasir dan hitam karang
kau pun lalu pergi ke batas langit
ah senja kapan kau kembali
kini
tak mampu lagi kugapai baramu
tak sanggup lagi kukejar hangatmu
kau sisakan kenangan yang membiru
dan kau tinggalkan sepi yang sempurna untukku
ah senja kapan kau kembali
Langganan:
Komentar (Atom)


